Rabu, Februari 20, 2013

Dalam ilmu ushul fiqh, terdapat sebuah pembahasan yang sangat mendasar yaitu Dalil hukum Islam. Pembahasan ini sangat penting mengingat setiap hukum yang telah di tetapkan dalam Islam memiliki dalil atau rujukan.
A. Pengertian Dalil
Dalil (الدليل) dalam bahasa arab bermakna : petunjuk kepada sesuatu yang nyata ataupun abstrak, yang baik ataupun buruk. Sementara secara Istilah, ahli ushul fiqh menyimpul kan : sesuatu yang dijadikan petunjuk atas hukum amalan syar'i melalui jalan qath'i(Pasti) ataupun Zhanni(tidak pasti) dengan mempelajarinya.
Maksudnya, suatu dalil adalah petunjuk atau rujukan dari suatu Hukum dalam Syariah. Dalil itu bisa bersifat Qath'i ataupun Zhanni. Dan petunjuk itu harus dipelajari dengan benar sehingga menghasilkan suatu hukum.
Qath'i adalah suatu dalil yang pasti dan mutlaq, artinya kebenarannya terjamin. Biasanya dalil qath'i ini berupa nash Al-Quran , Sunnah Nabi, ataupun Ijma'.
Sementara Zhanni adalah suatu dalil yang bersifat sangkaan atau dugaan sehingga kebenarannya dan ketepatannya belum terjamin. Biasanya terdapat pada Qiyas, istihsan, dan lain-lain.

B. Pembagian Dalil
Ulama ushul fiqh membagi dalil kepada dua yaitu Muttafaq alaih(disepakti oleh seluruh ahli ushul) dan Mukhtalaf alaih(tidak disepakati oleh semua ahli ushul).
Muttafaq 'alaih adalah dalil-dalil yang telah disepakati oleh seluruh ulama bahwa hal tersebut bisa dijadikan dalil. Mereka adalah :
1. Al-Quran
2. Sunnah Nabi
3. Ijma' Ulama
4. Qiyas
Seluruh ulama ushul menggunakan ke-empat dalil tersebut dalam menetapkan hukum.
Mukhtalaf alaih adalah dalil yang tidak digunakan oleh seluruh ulama ushul(hanya sebagian) dalam menetapkan hukum. Dalil-dalil mukhtalaf ada 6 :
1. Istihsan (الإستحسان)
2. Istishhab (الإستصحاب)
3. Mashlahah mursalah (المصلحة المرسلة)
4. Urf (العرف)
5. Madzhab As-Shahabi (مذهب الصحابي)
6. Syar'u man Qablana (شرع من قبلنا)
Penjelasan mengenai ke-enam dalil ini akan ada di postingan berikutnya.
Dalil-Dalil diatas memiliki rujukan kenapa hal-hal diatas disepakati sebagai dalil. Rujukan pertama ada dalam surah an-nisa ayat 59
يآيها الذين آمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم ، فإن تنازعتم في شيء فرده الى الله و الرسول إن كنتم تؤمنون نالله و اليوم الأخر ذلك خير و أحسن تأويلا (النساء : ٥٩)
Dalam ayat ini dikatakan, ta'atlah kalian kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri. Ta'at bermakna mengikuti perintah dan menjauhi laranagan yang buat oleh Allah, Rasul, dan Ulil Amri. Ulil Amri bermakna pemimpin dalam urusan dunia, dan juga pemimpin dalam urusan Akhirat(Ulama).
Dan dalam Hadits
عن معاذ بن جبال أن رسول الله -صلى الله عليه و سلم- لما بعثه الى اليمن قال : كيف تقضي إذا عرض قضاء ؟ قال : أقضي بكتابالله ، قال : فإن لم تجد في كتاب الله ؟ قال : فبسنة الرسول الله ، قال : فإن تجد في سنة الرسو الله ؟ قال : أجتهد رأي ولا الوا ( أي لا أقصر في اجتهادي) فضرب رسول الله على صدره و قال : الحمدلله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضي رسول الله (رواه البغوي)
Hadits diatas menjelaskan bagaimana muaz bin jabal menetapakan hukum, muaz mengatakan dengan Al-quran, jika tidak terdapat dalam Al-Quran maka dengan sunnah Rasul, jika tidak ditemukan maka muaz akan berijtihad dengan seluruh kemampuannya. Mendengar ini Rasulullah SAW senang dan bersyukur kepada Allah.
Categories: ,

2 komentar:

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!